Leadership

Faktor Penting Meningkatkan Produktivitas Karyawan Yang Berprestasi

Johan Diharja | Asia/Jakarta 24 August 2020
Update: 6 September 2020 18:07:06 +07:00

Ikhtisar dan Ringkasan

  • Data riset Gallup menunjukan bahwa hanya 34 persen karyawan yang benar benar bekerja
  • Ada lima elemen penting dalam budaya perusahaan yang mendukung produktivitas dan
  • Empat strategi yang dapat diambil untuk menaikan kinerja dan prestasi karyawan
Mengelola Karyawan Yang Berprestasi Hampir Sama Dengan Membina Atlit / Reinventing Education

Beberapa karyawan memang lebih penting dari yang lain. Dalam artian produktivitas karyawan ini memiliki pengaruh meningkatkan bottom line atau keuntungan dan laba bersih secara langsung terlepas kita menyukai mereka secara pribadi atau tidak.

Dan daftar peran mereka panjang - tenaga penjualan, pekerja toko ritel, staf gudang dan logistik, pekerja transportasi, dan karyawan pabrik. Mereka ini harus masuk kerja sementara karyawan yang lain bisa melakukan pekerjaan mereka dengan lebih santai dan aman dari rumah atau work from home selama masa pandemi.

Dan beberapa dari karyawan berprestasi dan penting itu benar-benar ketakutan akan keselamatan mereka tetapi mereka harus tetap bekerja baik karena kebutuhan keuangan atau karena mereka benar benar loyal pada perusahaan. Kita hanya akan memfokuskan pembahasan pada mereka yang benar-benar loyal dan cara memperlakukan mereka dengan benar untuk keuntungan bersama.

Mereka seringkali tidak menyadari apa risiko pekerjaannya atau apa yang dilakukan perusahaan mereka untuk memastikan serta menjamin keselamatan mereka. Seperti yang dikatakan seorang pekerja pabrik baru-baru ini kepada reporter berita TV lokal, "Saya tidak ingin kami tutup, tetapi saya tidak ingin sakit dan mati karena saya akan bekerja."

Mereka inilah yang paling banyak mengambil risiko untuk perusahaan dan juga lebih dari karyawan yang lain. Pekerja berisiko membuat pilihan untuk pergi bekerja setiap hari, mempertimbangkan apakah risiko sesuai dengan gaji mereka

Jika pilihan hanya dimotivasi oleh gaji, kinerja dan produktivitas karyawan cenderung buruk dan loyalitas mereka akan lebih mudah turun.

Loyalitas disini bukan dalam artian mereka yang awet dan telah tahunan bekerja untuk kita, topik tentang hal ini telah dibahas panjang lebar disini. Karena lamanya karyawan bekerja dapat berarti juga bahwa keterampilan mereka tidak kompetitif dan tidak ada yang menginginkan sehingga tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan mereka. Lagipula karyawan mana yang tidak ingin mendapatkan penghasilan lebih besar ?

Dari sisi produktivitas, karyawan yang buruk akan berdampak negatif pada keuntungan bisnis. Sebuah peneliatan dari Gallup mengatakan bahwa karyawan yang tidak bersemangat dan tidak produktif merugikan bisnis sekitar 550 miliar dolar setiap tahun di Amerika Serikat saja.

Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap penurunan produktivitas — mulai dari strategi komunikasi internal yang lemah hingga kurangnya akuntabilitas, tidak memiliki sosok figur pimpinan ditempat kerja, praktik orientasi yang tidak efektif, dan pelatihan karyawan yang tidak memadai.

Menurut penelitian dari Dynamic Signal, semua orang setuju bahwa produktivitas karyawan sangatlah penting untuk meningkatkan keuntungan sebuah perusahaan. Namun banyak sekali informasi yang tidak tepat yang didapatkan oleh seorang pemimpin tentang produktivitas masing-masing karyawannya. Disini diperlukan alat ukur dan data yang akurat.

Karyawan yang kinerja dan produktivitas mereka dimotivasi oleh keterikatan psikologis dan emosional yang dalam dengan perusahaan dan keberhasilan perusahaan maka ketahanan dan semangat mereka akan sangat luar biasa. Kita akan mendapatkan jenis kinerja yang akan membantu perusahaan berkembang selama penurunan ekonomi dan krisis lainnya. Sebagai pemimpin bisnis dan perusahaan hal ini sangat perlu diperhatikan.

Ketahanan dan semangat kerja karyawan adalah salah satu faktor terpenting dari kesuksesan bisnis saat ini, terutama di antara pekerja penting yang berprestasi. Mempertahankan mereka menjadi jauh lebih penting daripada ketidaksukaan pribadi atau biaya gaji mereka. Karena ROI karyawan seperti ini sangatlah menguntungkan dan tinggi.

Faktor Penting Mengelola Produktivitas Karyawan

Kinerja dan pekerja keras adalah sifat karakteristik kepribadian tetapi sebagai pemimpin, kita dapat mendukung dan mengembangkannya.

Ada lima elemen yang penting dalam mengembangkan budaya perusahaan yang mendukung sifat keras keras dan mematikan budaya free loader yaitu:

  • Mengetahui apa yang karyawan harapkan pada dirinya sendiri ditempat kerja
  • Memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya dengan benar
  • Mencari kesempatan untuk memberikan hasil terbaik setiap hari dengan tindakan bukan kata-kata
  • Memahami misi dan tujuan organisasi karena sesuai dengan sifatnya
  • Memiliki komitmen untuk belajar agar memberikan hasil pekerjaan yang berkualitas

Karyawan yang sangat setuju dengan kelima hal pokok tersebut diatas akan:

  • 300 persen lebih mungkin daripada rata-rata karyawan untuk sangat setuju bahwa organisasi mereka memiliki alat dan proses yang tepat untuk merespons kebutuhan bisnis dengan cepat
  • 250 persen lebih mungkin daripada rata-rata karyawan untuk sangat setuju bahwa organisasi mereka memiliki pola pikir yang benar untuk merespon dengan cepat akan kebutuhan bisnis
  • 31 persen lebih mungkin daripada rata-rata untuk mengatakan bahwa mereka selalu dapat bangkit kembali dari kesulitan

Melakukan pelatihan pada lima elemen ini membantu karyawan merasa percaya diri dalam peran mereka hingga berprestasi meningkatkan produktivitas. Untuk melakukan coaching berarti memiliki hubungan, individu demi individu, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah melalui percakapan.

Untuk mengembangkan kelima faktor kunci tersebut, pemimpin harus meluangkan waktu untuk percakapan santai dan tidak bisa dengan jargon atau perintah. Sifat tidak bisa diubah dengan perintah tetapi memerlukan pendekatan dan teladan yang baik.

Menjadi contoh bagi karyawan dalam meningkatkan produktivitas kerja

Pekerja yang memiliki prestasi tersebut harus tahu bahwa kita sebagai pimpinan mereka peduli, memikirkan mereka, menghargai mereka dan mau berjuang untuk mereka seperti mereka juga sudah berjuang.

Para pemimpin yang hadir dan yang ikut bekerja bersama karyawan dilapangan memiliki keuntungan strategis yaitu Kehadiran mereka memperkuat keyakian bahwa karyawan tidak sendirian dalam situasi tersebut. Bahwa pemimpin mereka bukan tipe pemimpin yang hanya mengambil keuntungan saja.

Menjadi Leader Yang Mendukung Produktivitas

Sebagai pemimpin kita dapat menggunakan lima elemen diatas untuk mengajukan pertanyaan klarifikasi, termasuk:

  • Apa prioritas hari ini?
  • Apakah mereka sudah memiliki apa yang dibutuhkan untuk sukses hari ini?
  • Seperti apa kesuksesan hari ini diukur?
  • Apakah sudah memiliki apa yang dibutuhkan untuk merasa aman saat bekerja?

Pertanyaan-pertanyaan ini menyelaraskan harapan kita dan karyawan terhadap sumber daya, keselamatan dan kualitas - dan menunjukkan kepada karyawan seperti apa keutamaan peran mereka dan bagaimana mencapainya. Hal ini juga dapat memberikan kita cara untuk mengekspresikan minat dan perhatian kepada mereka.

Karyawan juga merasa lebih bersemangat dan produktif ketika mereka menjalankan pekerjaan yang sesuai bakat mereka, pikiran, perasaan, dan sifat bawaan mereka. Ini memungkinkan mereka membangun kekuatan mereka, memperdalam hubungan mereka dengan pekerjaan dan membuat hidup mereka lebih bermakna.

Dengan pemikiran ini, para pemimpin yang hebat menyesuaikan pendekatan mereka dan mengajukan pertanyaan seperti:

  • Apa yang Anda lakukan hari ini yang benar-benar sesuai dengan ketrampilan Anda?
  • Mengingat kembali beberapa hari terakhir ini, kapan Anda merasa benar-benar berprestasi?
  • Bagaimana Anda bisa menjadi yang terbaik saat ini?

Penelitian juga menunjukkan bahwa 61 persen karyawan yang merasa pimpinan mereka berfokus pada kekuatan mereka akan semakin bersemangat ditempat kerja sementara karyawan yang merasa pimpinan mereka berfokus terutama pada kelemahan hanya 22 persen yang masih bersemangat untuk berprestasi dan bekerja keras.

Lebih banyak pelatihan, coaching dan mentoring maka akan lebih bersemangat mereka. Dan lebih banyak fokus pada kekuatan menghasilkan lebih banyak kinerja yang positif.

Karyawan produktif yang selalu bersemangat dalam bekerja / WeWork

Akhirnya, tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk mengintegrasikan karyawan kedalam misi atau tujuan perusahaan mereka sehingga mereka tahu bahwa pekerjaan yang mereka lakukan itu penting. Serta menunjukkan kepada mereka bahwa mereka adalah bagian dari tujuan yang lebih besar dari diri mereka sendiri dan ini akan memperkuat tekad semangat mereka.

Strategi Meningkatkan Produktivitas Karyawan Agar Berprestasi

Tidak ada yang membunuh produktivitas lebih dari karyawan yang tidak bersemangat untuk melakukan pekerjaannya. Dari data penelitian yang dilakukan oleh Gallup hanya sekitar 34 persen dari karyawan yang benar benar bersemangat untuk bekerja, berprestasi dan loyal (bukan karena telah lama bekerja dan ikut kita). Temuan ini juga hampir sama dengan hukum pareto bahwa hanya 20 persen karyawan yang serius bekerja.

Maka bayangkanlah tentang hal itu — jika bisnis yang kita miliki seperti kebanyakan perusahaan. Hampir seluruh atau sebagian besar karyawan kita tiba di tempat kerja setiap pagi dengan perasaan yang tidak peduli dan tidak bersemangat serta tidak memikirkan kepentingan bisnis kita. Mereka sama sekali tidak memiliki insentif untuk menjadi produktif.

Kabar baiknya adalah kita dapat mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan produktivitas para karyawan dengan 4 hal dibawah ini:

1. Memberikan Insentif Disemua Tingkatan

Kecenderungan dalam bisnis adalah mengoptimalkan kinerja dan produktivitas manajer senior dan eksekutif C-suite untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Tetapi kita tidak akan berhasil meningkatkan produktivitas jika kita mengabaikan karyawan ditingkat yang lebih rendah dalam organisasi bisnis.

Meskipun pada awalnya mungkin tampak mahal untuk menawarkan gaji plus insentif kepada karyawana dengan tingkat yang lebih rendah, sebenarnya tidak melakukannya akan menjadi hambatan produktivitas yang pada akhirnya akan merugikan bisnis. Kita juga akan kehilangan banyak kesempatan untuk meraih laba.

2. Membuat Rencana Komunikasi Yang Efektif

Untuk membuat karyawan menjadi lebih produktif, diperlukan komunikasi yang teratur dan baik. Komunikasi ini merupakkan bagian dari coaching dan mentoring seperti yang telah kita bahas disebelumnya.

Kita perlu memberi tahu dan mendukung mereka secara teratur tentang apa yang kita harapkan dari mereka. Lebih penting lagi, kita juga perlu mendengarkan mereka. Hal ini akan membentuk terjadinya dialog yang konstruktif. Selain juga memberikan peluang untuk komunikasi dan umpan balik yang efektif misalnya, melalui pertemuan rutin formal maupun informal termasuk evaluasi kinerja. Ini pada akhirnya akan membantu kita untuk dapat mengartikulasikan harapan dan mendapatkan wawasan berharga tentang hambatan dan masalah yang dihadapi oleh karyawan. Kedua hal ini akan berdampak positif terhadap meningkatkan produktivitas karyawan.

3. Menjadi Teladan Dalam Perilaku Produktif

Tidak ada hal yang lebih besar yang akan mengurangi dampak strategi produktivitas kita selain meminta karyawan untuk melakukan sesuatu tetapi kita tidak melakukannya. Kualitas leadership dapat dilihat dari sisi ini yaitu: melakukan sendiri apa yang kita bicarakan.

Misalnya, jika membuat aturan kepada karyawan untuk berada di meja mereka setiap hari tetapi secara konsisten datang terlambat satu jam maka karyawan akan menyimpulkan bahwa kita tidak serius tentang produktivitas dan kemungkinan besar hanya akan membuat frustrasi dan kesal. Secara sederhana, jika kita ingin meningkatkan produktivitas, jadilah teladan dalam perilaku yang cenderung meningkatkan produktivitas dan menjadi yang pertama untuk melakukan peraturan yang kita buat. Ini namanya leader.

4. Beri Karyawan Anda Alat dan Pelatihan yang Mereka Butuhkan untuk Sukses

Kita tidak dapat mengharapkan karyawan untuk melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan produktif jika tidak memberi mereka alat dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk berhasil. Disini sangatlah diperlukan pelatihan yang baik.

Strategi pelatihan cerdas memastikan karyawan memiliki keterampilan dan kompetensi yang diperlukan dan yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka dengan cara yang paling efektif. Ini berarti bahwa pelatihan karyawan haruslah dilakukan oleh mereka yang sudah benar benar berpengalaman dan profesional. Karena seiring dengan banyaknya pengalaman maka semakin banyak juga trik dan tip dalam menghadapi hambatan yang terjadi pada dunia nyata.

Meningkatkan produktivitas karyawan berarti perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan bagi perusahaan

Tetapi memilih metodenya juga bisa rumit dan membingungkan. Untungnya, telah ada para profesional dan praktisi bisnis berpengalaman yang dapat memberi nasihat, panduan, dan alat untuk menyederhanakan proses dan membuatnya terbukti lebih efisien untuk membuat karyawan berprestasi.

Lagi Ramai Dibicarakan

Mengetahui Minat Bakat Tanpa Tes Kepribadian Secara Akurat

Ada sebuah metode untuk mengetahui minat bakat dan kemampuan kerja karyawan tanpa memerlukan tes kepribadian atau psikotes. Hanya diperlukan observasi dan sedikit wawancara untuk mendapatkan hasil yang akurat dan dapat dipercaya. Suatu kali, ketika saya memberikan konsultasi pada perusahaan yang mengalami penurunan performa. Saya mengamati dalam kegiatan operasional perusahaan sehari-hari, cukup banyak jumlah karyawan sedang

Meningkatkan Produktivitas Saat WFH Di Era New Normal

Solusi mengatasi pandemi COVID-19 dengan menerapkan lockdown atau PSBB telah memaksa perusahaan merumahkan karyawan. Bagi sejumlah perusahaan yang tidak melakukan PHK maka work from home (WFH) dapat menjadi solusi untuk menyelamatkan produktivitas bisnis yang telah dibangun selama ini. Dari sisi biaya, WFH menyenangkan dan menguntungkan kedua belah pihak. Bagi karyawan yang tidak mengalami pengurangan gaji

Mengapa Manajemen Perubahan Tidak Membawa Hasil

Banyak perusahaan mencanangkan membuat rencana untuk perubahan sebagai bagian dari apa yang disebut manajemen perubahan atau change management. Pada kenyataannya bahwa perusahaan atau organisasi apapun akan mengalami kesulitan untuk berubah walaupun niat dari perencanaan adalah untuk melakukan perubahan. Status quo adalah hal yang paling sulit untuk dirubah. Banyak orang yang mengatakan bukan perencanaan yang membuat

Menilai Kesuksesan Wanita Sebagai Pemimpin

Apakah perempuan adalah pemimpin yang baik? Selama ini sedikit sekali perempuan yang menempati tempat nomor satu di sebuah kepemimpinan baik itu negara ataupun perusahaan. Saat COVID 19 ini melanda seluruh dunia maka semua kepala negara menghadapi masalah yang sama. COVID 19 adalah virus yang sangat cepat menular, belum bisa di prediksi dan banyak menimbulkan kematian

Enam Budaya Perusahaan Yang Merusak Pertumbuhan Atau Growth

Satu dari lima karyawan melaporkan terjadinya krisis budaya dalam perusahaan mereka dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Krisis yang dimaksud adalah seperti pelecehan seksual, diskriminasi, korupsi, penipuan terhadap pelanggan, mengabaikan keselamatan kerja hingga kesewenang-wenangan pimpiman. Riset dari lembaga United Mind dan KRC Research juga menunjukan bahwa hanya 28 persen karyawan menemukan hubungan antara tindakan

Growth Marketing
Digital Marketing
Sales Operasional
Pengembangan Bisnis