Profil Low Tuck Kwong Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes

Profil Low Tuck Kwong Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes

Low Tuck Kwong adalah raja batubara menjadi jadi orang terkaya nomor satu di Indonesia versi Forbes dengan kekayaan US$ 25,2 miliar atau Rp 378 triliun dengan asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS. Ia menyalip posisi Hartono bersaudara raja rokok Indoensia yang harus puas di peringkat kedua dan ketiga.

Berdasarkan data real time Forbes, Kwong sang raja batu bara kelahiran Singapura yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Pendiri Bayan Resources Tbk (BYAN) sebuah perusahaan pertambangan batu bara di Indonesia. Selain itu, Kwong juga tercatat sebagai pengendali di perusahaan energi terbarukan Singapura, Metis Energy yang sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources dan memiliki saham di The Farrer Park Company, Samindo Resources dan Voksel Electric.

Bisnisnya menggurita dari usaha tambang, konstruksi, kesehatan hingga jaringan internet sehingga Kwong getol mendukung SEAX Global untuk membangun sistem kabel laut bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Dari Kontraktor Bangunan Menjadi Pengusaha Tambang Batubara

Perjalanan karir Kwong dimulai saat bekerja untuk perusahaan konstruksi ayahnya di Singapura. Pada waktu itu, Kwong masih remaja dan kemudian pindah ke Indonesia pada 1972 untuk mendapatkan kesempatan bisnis yang lebih besar. Di Indonesia, Kwong memulai bisnisnya sebagai kontraktor bangunan. Namun, ia berhasil mendapatkan jackpot setelah membeli tambang pertamanya pada 1997.

Keputusannya membeli tambang itulah yang membawanya saat ini menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia. Low Tuck Kwong membeli perusahaan tambang batu bara pertamanya,yaitu PT Gunung Bayan Pratama Coal pada November 1997 dan setelah itu ia ubah namanya menjadi Bayan Resources.

Bayan menguasai konsesi batu bara seluas 100 ribu hektare di Mantan dan Lebak Cilong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Perusahaan ini masuk dalam jajaran produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Saham Publik Membuatnya Semakin Kaya

Kekayaan Kwong makin berlipat ketika ia menjual sebagian saham Bayan Resources dengan melakukan IPO di Bursa Efek Jakarta ke publik pada 2008. Di tengah harga saham dan harga batu bara yang anjlok, Kwong memutuskan memborong saham emiten miliknya sendiri yaitu BYAN saat harga murah. Tujuannya untuk mencegah penurunan valuasi sahamnya dengan investasi dengan status kepemilikan langsung.

Ia memang dikenal getol mengakumulasi saham miliknya sendiri. Sepanjang tahun lalu, Kwong rajin membeli saham perusahaan besutannya. Menariknya, semua transaksinya beli tanpa jual sekalipun. Strategi membeli saat harga sahamnya terjun bebas terbukti membawacuan. Perang Rusia-Ukraina memicu krisis energi dan melambungkan harga batu bara. Kinerja Bayan Resources pun gemilang dengan pendapatan yang naik dua kali lipat dari tahun lalu. BYAN membukukan pendapatan US$ 3,3 miliar sedangkan tahun lalu hanya US1,74 miliar.

Kantong uang Kwong memang terus bertahap seiring dengan kenaikan harga saham BYAN yang terjadi dalam bulan ini. Berdasarkan catatan CNBC Indonesia harga saham BYAN ditutup menguat 2,63 persen di Rp 18.525 per unit dengan nilai kapitalisasi BYAN tembus Rp 617,5 triliun.

Return yang dihasilkan dari saham BYAN pun mengungguli saham-saham batu bara lain seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambagraya Megah Tbk (ITMG), PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Perbandingan Harta Crazy Rich Indonesia

Jumlah kekayaannya juga terpantau cukup jauh dari pendiri perusahaan rokok Djarum Hartono bersaudara. Budi Hartono menjadi orang terkaya nomor dua dengan harta US$ 22,1 miliar atau Rp 331,5 triliun. Kemudian, Michael Hartono bergeser menjadi orang terkaya nomor tiga di Indonesia dengan kekayaan US$ 21,3 miliar atau Rp 319,5 triliun. Berikut daftar posisi 10 orang kaya di Indonesia terbaru dari data real time Forbes:

  1. Low Tuck Kwong US$ 25,2 miliar
  2. Budi Hartono US$ 22,1 miliar
  3. Michael Hartono US$ 21,3 miliar
  4. Sri Prakash Lohia US$ 7,6 miliar
  5. Prajogo Pangestu US$ 5 miliar
  6. Chairul Tanjung US$ 5 miliar
  7. Tahir and keluarga US$ 4,1 miliar
  8. Djoko Susanto US$ 3,9 miliar
  9. Theodore Rachmat US$ 3,3 miliar
  10. Martua Sitorus US$ 3,1 miliar.

Topik Terkait

ForbesPertumbuhanPertambangan
Gayatri Iswara

Gayatri Iswara

Gayatri adalah tamatan Universitas Columbia di New York dan sangat menyukai menjabarkan hal-hal teoristis komplek menjadi hal yang sederhana terutama pada masalah bisnis, keuangan dan demografi.
Masalah Bisnis? Kami Siap Membantu
  • Growth Strategy
  • Digital Marketing
  • Sales Operational
  • Business Development