Penyebab dan Daftar Mal Yang Sepi Pengunjung Meski PPKM Telah Selesai

Penyebab dan Daftar Mal Yang Sepi Pengunjung Meski PPKM Telah Selesai

Mal-mal di DKI Jakarta nampak sepi ditinggal pengunjung. Meski pandemi mulai reda dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dicabut, namun pusat perbelanjaan tersebut tak lagi ramai seperti dulu. Seperti Mal Blok M hingga Plaza Festival Kuningan terlihat sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, pusat belanja Ratu Plaza, Glodok City, dan Plaza Semanggi juga sepi pengunjung.

Mal Blok M

Pantauan BisnisGrowth.com di Mal Blok M terlihat suasana lengang dan jauh dari padat pengunjung bak kota mati. Nampak beberapa penjaga kios pun sibuk bermain ponsel alih-alih memanggil pengunjung untuk melihat-lihat barang yang dijajakan. Pemandangan tersebut tak membuat heran. Sebab, siapa yang ingin pedagang itu panggil wong pengunjung pun nihil.

Mal yang dulunya terkenal sebagai satu-satunya 'Mal Bawah Tanah' ini merupakan kawasan legendaris yang digandrungi anak muda 90-an. Lokasinya pun terletak tepat di bawah Terminal Blok M, Jakarta Selatan, yang punya posisi sangat strategis sebagai jalur transit alat transportasi. Kini kondisi Mal Blok M jauh berbeda. Mal ini sepi di mana banyak toko tutup dan jarang pengunjung yang melintas. Mal ini diklaim mulai sepi sejak 2017 silam, kala Ramayana dan Robinson hengkang dari sana. Kondisi pun diperparah dengan terjangan pandemi covid-19.

Di beberapa sudut mal, banyak kios yang tutup. Di bagian lain pun nyaris tak terdengar percakapan antara penjual dan pembeli yang sedang tawar-menawar. Tak hanya itu, beberapa cafe, restoran, dan kantin pun sepi. Pengunjung yang makan di tempat pun bisa dihitung jari. "Sekarang sepi kadang cuma satu-dua orang yang belanja sehari, penjualan turun 60 persen," keluh Devi, salah seorang pedagang di Mal Blok M.

Ia mengaku kalau beberapa tahun lalu dirinya bisa membawa pulang Rp 4 juta per hari. Perempuan yang sehari-hari menjual pakaian itu menuturkan Mal Blok M sudah sepi sejak pandemi. Apalagi, saat ini masyarakat lebih memilih belanja secara online. Devi menilai ketika pandemi, banyak orang memanfaatkan toko online untuk berbelanja. Belum lagi harga di toko online relatif lebih murah ketimbang di mal karena mereka tidak perlu membayar sewa.

Ia hanya bisa gigit jari karena mau menurunkan harga pun tidak bisa. Sebab, membuka lapak di mal berarti harus membayar sewa tempat. Belum lagi saingannya banyak. Karenanya, ia harus berpikir beberapa kali untuk menekan harga. "Jadi mungkin orang mikir-mikir juga, dengan perbandingan harga Rp 5 ribu-Rp 10 ribu orang mikir untuk belanja online atau ke mal itu juga ngaruh," ucap Devi.

Richio, seorang pedagang celana dan jaket di mal yang sama juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengatakan mal sepi dua tahun belakangan. Oleh karena itu, omzetnya pun turun lebih dari 50 persen. Richio juga menyebut meski PPKM sudah dicabut namun Mal Blok M belum diserbu pengunjung. Ia hanya bisa berharap mal kembali ramai menjelang Ramadhan atau Idul Fitri. "Sekarang sepi banget. Mudah-mudahan dekat bulan puasa bisa ramai lagi," ujarnya.

Kondisi Mal Blok M saat ini kontras jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Mal ini dulu dikenal sebagai satu-satunya 'Mal Bawah Tanah'. Bahkan, pusat perbelanjaan ini dicap sebagai kawasan legendaris yang digandrungi anak muda 90-an. Apalagi lokasinya terletak tepat di bawah Terminal Blok M, sangat strategis sebagai jalur transit moda transportasi.

Tak hanya itu, beberapa hal lainnya yang menyebabkan mal ini seolah-olah kota mati ialah keberadaan toko online, maraknya penjualan barang-barang bekas, dan hilangnya toko-toko besar yang dapat menjadi daya tarik kawasan ini seperti Ramayana. Hilangnya transportasi Metromini dan Kopaja juga menjadi salah satu faktor ekstra, di mana dulunya terminal ini merupakan lokasi transitnya kedua kendaraan tersebut.

Plaza Festival Kuningan

Bergeser ke Plaza Festival Kuningan di Jakarta Selatan, pemandangan sama juga terjadi di pusat perbelanjaan tersebut. Mal yang berada di pusat kota kini sepi pengunjung. Terpantau, beberapa kios tutup, kios yang buka pun tak ada tamu. Penjaga kios hanya sibuk bermain ponsel sembari berdendang mengusir rasa jenuh. Bukan hanya kios, kafe dan restoran di Plaza Festival Kuningan juga sepi. Bahkan, salah satu kafe hanya terisi tiga meja.

"Mulai pandemi sudah sepi kayak gini. Dulu, istilahnya kalau dibandingkan, hilang 50 persen pengunjungnya. Omzet juga kisaran segitu (turunnya)," kata Anton salah satu pedagang di Plaza Festival Kuningan. Pria yang menjual aksesoris dan barang elektronik itu mengatakan jika saja mal itu tidak berada dekat pusat perkantoran, mungkin akan jauh lebih sepi.

Pasalnya, saat ini mayoritas pengunjung adalah karyawan di sekitar Kuningan. Meski begitu, Anton memilih bertahan dan berdoa suatu hari Plaza Festival Kuningan bisa kembali ramai. "Bertahan saja, siapa tahu nanti akan normal lagi seperti semula," ucapnya penuh harap.

Ratu Plaza

Mal yang berlokasi di Sudirman, Jakarta Pusat, ini dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan ternama di Ibu Kota. Namun, saat ini kondisinya bisa dibilang memprihatinkan. Mal ini sepi sejak pandemi 2020. Kondisi ini pun membuat sebagian besar pemilik kios memutuskan untuk tutup. Dulu para pedagang bisa meraup omzet hingga puluhan juta. Kini, pedagang hanya bisa mengantongi omzet di kisaran ratusan ribu. Walaupun penghasilan berkurang drastis, para pedagang tetap membayar sewa toko secara penuh.

Glodok City

Mal ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan elektronik legendaris di Jakarta Barat yang berdiri sejak 1970-an. Kini, Glodok City sepi seakan tak mampu bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan baru dan maraknya toko online. Pandemi kian memperparah kondisi mal ini. Jumlah gerai yang tutup kian bertambah terutama di bagian lantai dua ke atas. Bangunan dipenuhi dengan kios-kios tutup, yang ditempeli dengan pengumuman Dijual/Disewakan' terpasang. Ada pula beberapa kios yang ditempeli kertas pengumuman bertuliskan 'Ditutup Sementara' dari PD Pasar jaya. Sebagian pemilik toko di sana disebut-sebut pindah ke rumah dan beralih ke jualan online, ada pula yang pindah ke tempat yang lebih strategis.

Plaza Semanggi

Plaza Semanggi di Jakarta Selatan mulanya merupakan pusat perbelanjaan yang ramai. Dulunya, banyak pedagang yang membuka toko di mal ini. Saking ramainya, untuk berjalan saja susah. Kala itu, toko-toko atau ruko terisi penuh. Ramainya mal juga didukung banyaknya event di Plaza Semanggi. Namun, kondisi Plaza Semanggi kini sangat sepi, jauh berbeda dari sebelumnya. Mal ini juga sudah banyak ditinggalkan pedagang. Hal itu terlihat dari banyaknya toko yang tutup. Pengunjung Plaza Semanggi diperkirakan mulai berkurang pada 2018. Namun, terasa mulai sepi pada 2019. Sejak covid-19 menerjang di 2020, kondisi mal ini semakin memburuk. Sementara itu, belum ada pernyataan dari pengelola keempat pusat perbelanjaan tersebut terkait sepinya pengunjung.

Penyebab Mal Sepi Pengunjung

BisnisGrowth.com berpendapat ada beberapa faktor yang membuat mal sepi meski pembatasan covid-19 sudah dicabut antara lain, yaitu :

  1. Kenaikan biaya hidup akibat inflasi membuat masyarakat rem belanja kebutuhan sekunder dan primer, dan cenderung fokus pada pemenuhan belanja makanan minuman.
  2. Persaingan mal baru cukup ketat sehingga konsumen dengan mudah meninggalkan mal lama dan beralih ke mal baru, terutama di pinggiran Jakarta.
  3. Mal bila ingin bertahan harus berubah menjadi tempat rekreasi dan pusat kuliner. Mal jadi tempat hiburan keluarga dibanding belanja barang barang.
  4. Biaya sewa tempat di mal juga mempengaruhi keputusan tenant. Semakin tua mal tapi harga sewanya mahal maka mal itu akan ditinggal tenant.
  5. Pilihan belanja semakin banyak, akibatnya banyak mal tua beralih jadi gudang sementara penjualan dilakukan di ecommerce.
Mal harus dapat menyediakan atau memberikan pengalaman kepada para pelanggannya seperti fasilitas untuk berkumpul baik bersama keluarga, sanak saudara, teman, kolega dan komunitas.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, mal-mal sepi tak hanya terjadi di Jakarta tapi juga kota-kota besar lainnya. Ia mengatakan pusat perbelanjaan akan terus sepi jika hanya mengandalkan fungsi belanja. Apalagi sekarang sudah ada e-commerce yang memudahkan masyarakat belanja. Sebab itu, pusat perbelanjaan harus dapat menambahkan fungsi lain dari sekedar sebagai tempat berbelanja.

"Masih banyak pusat perbelanjaan yang mampu dan telah berhasil memberikan fungsi lain dari sekedar fungsi belanja saja sehingga diminati dan banyak dikunjungi oleh masyarakat bahkan tingkat kunjungannya telah mencapai 100 persen," katanya.

Menanggapi kondisi mal-mal yang mulai sepi, Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet membenarkan pernyataan Alphonzus itu. Ia mengatakan ada juga beberapa yang mal masih ramai karena menyediakan fasilitas berbelanja yang relatif lengkap.

Umumnya, jelas Yusuf, masyarakat lebih cenderung untuk berkunjung karena mereka ingin merasakan atau menikmati tidak hanya berbelanja, tetapi juga menggunakan fasilitas yang tersedia. Fasilitas yang ia maksud mulai dari untuk menonton film, makan, hingga konser atau panggung musik. "Fasilitas inilah yang umumnya berada di mal yang saat ini relatif masih ramai dikunjungi," katanya.

Dengan kata lain, mal yang saat ini sepi belum bisa menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut sehingga kalah saing. Ia menuturkan faktor lain yang membuat beberapa mal sepi adalah persaingan dengan ecommerce. Menurutnya, konsumen bisa mendapatkan harga yang lebih murah ketika berbelanja online dibandingkan berbelanja secara tradisional. Tak hanya itu, pembatasan semasa pandemi pun memperkuat orang untuk semakin memilih belanja secara online.

"Di samping itu kita juga tahu berbelanja secara online cenderung efektif dan tidak memakan waktu karena konsumen tidak perlu meluangkan waktu untuk berpergian ke suatu tempat" imbuh Yusuf. Terkait lokasi, menurutnya hal itu tidak menentukan mal bisa ramai atau sepi. Hal ini juga terbukti pada Mal Blok M, meski strategis pusat perbelanjaan itu tetap saja sepi.

Melihat kondisi ini, Yusuf mengingatkan bahwa pemerintah sebenarnya mendorong kunjungan masyarakat ke mal. Caranya dengan mengembalikan daya beli masyarakat di semua kelompok golongan pendapatan.

Menurutnya, pemerintah perlu mendorong pendapatan masyarakat terutama menengah ke bawah di tahun ini dan tahun-tahun setelahnya. Hal ini akan ikut menentukan bagaimana proses peningkatan daya beli masyarakat terjadi di tahun ini dan juga tahun-tahun setelahnya. Selain pemerintah, pengelola mal juga perlu berinovasi untuk meningkatkan kunjungan.

"Pengalaman berbelanja di mal diperlukan untuk menarik kembali konsumen berkunjung, bentuk inovasi diantaranya misalnya adanya pengalaman berbelanja yang unik," ujar Yusuf. Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menuturkan sebelum adanya pandemi, penjualan pakaian jadi cenderung melambat sehingga mal yang tenantnya banyak menjual produk fashion ikut terdampak.

"Ini hanya sebagian fenomena kecil pada mal mal tua seperti Glodok, Mangga Dua, dan Tanah Abang," sambung Bhima. Setelah pelonggaran pun konsumsi pakaian jadi hanya tumbuh 4,4 persen di kuartal III 2022, lebih rendah dari total pertumbuhan konsumsi rumah tangga yakni 5,39 persen.

Lebih lanjut, ia mengatakan harus ada kerja sama pemerintah daerah (Pemda) dan pengelola mal untuk membuat berbagai event, tujuannya agar pengunjung datang dan belanja. Kemudian, aktivasi mal tua juga bisa dilakukan dengan menggandeng investor. Hal ini dilakukan untuk renovasi total dan mengubah konsep mal, misalnya dari pusat fashion jadi pusat kuliner, sehingga kunjungan bisa meningkat. Bhima menambahkan pemerintah pusat dan daerah juga bisa memberikan banyak insentif pajak agar sewa tenant jadi lebih terjangkau.

Topik Terkait

Bisnis RitelEkonomiDigital MarketingBisnis Online
Gayatri Iswara

Gayatri Iswara

Gayatri adalah tamatan Universitas Columbia di New York dan sangat menyukai menjabarkan hal-hal teoristis komplek menjadi hal yang sederhana terutama pada masalah bisnis, keuangan dan demografi.
Masalah Bisnis? Kami Siap Membantu
  • Growth Strategy
  • Digital Marketing
  • Sales Operational
  • Business Development